Rabu, 09 Januari 2013

akun-manaj gabungan


BAB I
AKUNTANSI MANAJEMEN

Akuntansi Manajemen adalah kegiatan/proses yang menghasilkan informasi-informasi keuangan bagi manajemen untuk pengambilan keputusan internal perusahaan
Pihak Internal (Decision making/pembuatan keputusan untuk manajer)   ruang lingkup:

       Menentukan target penjualan
       Menentukan laba perusahaan
       Menambah/mengurangi jenis produk
       Membuat sendiri/membeli bahan baku
       Menyewakan/menjual fasilitas perusahaan
       Penggantian aktiva tetap

Tipe dan Manfaat Informasi Akuntansi
1.    Full Accounting Information
  Informasi tentang semua biaya langsung dan tak langsung yang dibebankan pada obyek biaya tertentu
  Penyusunan laporan keuangan, menganalisis prestasi manajer, menentukan harga jual produk, penyusunan perencanaan jangka panjang
2.    Differential Accounting Information
  Informasi tentang taksiran pendapatan, biaya, atau aktiva yang berbeda jika suatu tindakan tertentu dipilih
  Tidak menyajikan informasi masa lalu karena tipe informasi ini digunakan untuk pemilihan alternatif tindakan
3.    Responsibility Accounting Information
  Informasi tentang biaya yang menjadi wewenang dan tanggung jawab unit-unit organisasi
  Menganalisis prestasi manajer pada tiap SBU, digunakan untuk kegiatan perencanaan tahunan
Faktor-faktor
Akt. Keuangan
Akt. Manajemen
Pemakai Informasi
Pihak eksternal perusahaan
Pihal internal perusahaan
Dasar penyusunan Informasi
Prinsip akuntansi yang diterima secara umum
Tidak terikat oleh prinsip akuntansi
Fokus Informasi
Perusahaan secara keseluruhan
Bagian-bagian didalam perusahaan
Orientasi Informasi
Data masa lalu
Data masa lalu dan yang akan datang
Tipe Informasi
Informasi moneter
Informasi moneter dan non moneter
Ketepatan Informasi
Data yang disajikan lebih tepat
Lebih ditekankan pada ketepatan waktu
Persamaan akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen
       Keduanya merupakan tipe informasi akuntansi
       Data yang didunakan untuk menyusun berasal dari informasi operasi

BAB II
BIAYA DAN POLA PERILAKUNYA PENENTUAN BIAYA

Biaya adalah nilai moneter barang dan jasa yang dikeluarkan untuk mendapatkan manfaat sekarang atau masa depan.
Pembagian biaya berdasarkan sifat dan keterkaitannya dengan volume produksi:
1)   Biaya Tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisaran perubahan volume kegiatan tertentu (range of capacity). Biaya tetap dipengaruhi oleh kondisi perusahaan jangka panjang, teknologi&metode serta strategi manajemen.
Macam-macam biaya tetap:
s Commited Fixed Cost
Sebagian besar berupa biaya tetap yang timbul dari pemilikan pabrik, ekuipmen, dan organisasi pokok.
Contoh : biaya depresiasi, PBB, sewa, asuransi dan gaji karyawan utama.
s Descretionary  Fixed Cost 
Biaya ini timbul dari keputusan penyediaan anggaran secara berkala (biasanya tahunan) yang secara langsung mencerminkan kebijakan manajemen puncak mengenai jumlah maksimum biaya yang diizinkan untuk dikeluarkan.
Contoh : biaya riset dan pengembangan, biaya promosi penjualan, biaya program latihan karyawan, biaya konsultas.
2)   Biaya Variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah secara proporsional / sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya variabel per unit konstan (tetap) ada karena perubahan volume kegiatan.
Macam-macam biaya variabel:
Engineered Variable Cost
Engineered Cost adalah biaya yang memiliki hubungan fisik tertentu dengan ukuran kegiatan tertentu.
Merupakan biaya yang antara masukan dan keluarannya mempunyai hubungan erat dan nyata.
Contoh : biaya bahan baku.
Discretionary Variable Costs
Yakni biaya yang masukan dan keluarannya memiliki hubungan yang erat namun tidak nyata (bersifat artifisial).
Jika keluaran berubah maka masukan akan berubah sebanding dengan perubahan keluaran tersebut. Namun jika masukan berubah, keluaran belum tentu berubah dengan adanya perubahan masukan tersebut.
Contoh biaya iklan.
3)   Biaya Semivariabel adalah biaya yang memiliki unsur tetap dan variabel di dalamnya. Memiliki sifat perubahan/pola perilaku/besar kecilnya/tingkat sensitifitasnya dipengaruhi oleh perubahan volume produksi/kegiatan tetapi tidak secara proporsional.
Persamaan fungsi biaya
Biaya total = biaya tetap total + biaya variabel total
Biaya total = biaya tetap total + (biaya variabel per unit x volume kegiatan)
Rumus = Y.a + b.x

Y = biaya total
X = volume kegiatan
a = biaya tetap total
b = biaya varibel total

Penentuan pola perilaku biaya:
1.    Pendekatan Institusi Manajemen
2.    Pendekatan Analisis Enjinering
3.    Pendekatan Analisis Data Biaya Masa Lalu
Metode untuk menentukan Pola Perilaku Biaya dengan Analisa Perilaku Biaya Masa Lalu
1.    High and Low Point Method
Tarif Biaya Variabel =           Selisih Total Biaya              
Selisih Tingkat/volume Kegiatan
Contoh Soal:
PT. Makmur Kencana ingin mengetahui pola perilaku biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap selama 5 bulan di tahun 2009 dengan data sebagai berikut:
Bulan
Vol. Kegiatan (X)
Biaya Reparasi & Pemeliharaan (Y)
Januari
150
Rp. 175.000
Februari
250
Rp. 225.000
Maret
300
Rp. 250.000
April
225
Rp. 212.000
Mei
100
Rp. 150.000
Total
1.025
Rp1.012.000

Bulan
Vol. Kegiatan
Biaya Rep. & Pemlh.
Keterangan
Maret
300
Rp. 250.000
Nilai tertinggi
Mei
100
Rp. 150.000
Nilai terendah

200
Rp. 100.000
Selisih nilai





Menentukan biaya variabel per unit (b) :
b = Rp 100.000 = Rp 500/ unit
200
Menentukan biaya tetap total (a) :
Total Biaya (Y) tertinggi                            Rp 250.000
Total Biaya Variabel (Rp 500 x 300)         (Rp 150.000)
Biaya Tetap Total                                Rp 100.000
v Fungsi Biaya Reparasi & Pemeliharaan : Y = 100.000 + 500 . X
2.    Stand by Cost 
Penentuan unsur biaya tetap dilakukan dengan menghentikan sementara kegiatan perusahaan untuk mengetahui besarnya biaya yang ditanggung perusahaan jika kegiatannya terhenti.
Contoh Soal:
Biaya listrik pada tingkat produksi 100.000 unit adalah Rp. 1.200.000. sedangkan biaya listrik yang harus dibayar pd saat produksi dihentikan adalah Rp. 800.000. dari data tersebut, penentuan pola perilaku biaya listrik adalah sebagai berikut :
Vol. Produksi
Biaya
Keterangan
100.000
 Rp.  1.200.000
Total biaya
0
(Rp.     800.000)
Stand By cost
100.000
 Rp.     400.000
Selisih (biaya variable)
}  Biaya tetap (a) = Rp. 800.000
Biaya Variabel per unit (b) = Rp 400.000 : 100.000 unit = Rp 4 /unit
v Fungsi Biaya Listrik :Y = 800.000 + 4.X
3.    Least-Square Method
Penentuan pola perilaku biaya menurut metode ini adalah menentukan total biaya tetap dan biaya variabel per unit dengan rumus :
                       


Contoh Soal :
Gaji petugas penjualan dan volume penjualan selama semester pertama tahun 2010 adalah sebagai berikut :
                                   






 


PERTEMUAN III
ANALISIS HUBUNGAN BIAYA, VOLUME, DAN LABA

Jumlah laba yang berhasil diperoleh perusahaan merupakan indikator dari keberhasilan perusahaan tersebut. Ruang lingkup akuntansi manajemen diketahui ada 3 faktor yang dapat mempengaruhi besarnya laba, yaitu biaya, harga jual dan volume (volume produksi dan volume penjualan) 
Keterkaitan antara biaya, volume, dan laba
Biaya yang timbul/yg harus di tanggung oleh perusahaan dalam mengolah/memproduksi suatu produk/jasa akan mempengaruhi harga jual produk/jasa tersebut. Biaya yang besar mengharuskan perusahaan menetapkan harga jual produk yang tinggi untuk menutup biaya tersebut. Harga jual produk yang tinggi akan mempengaruhi volume penjualan. Konsumen sangat selektif dalam memilih produk yang dikonsumsinya sesuai dengan kemampuan keuangannya. Kalau produk pesaing menetapkan harga yang lebih rendah dari harga jual produk kita, maka otomatis volume penjualan kita tidak dapat mencapai target. Besarnya volume penjualan akan mempengaruhi volume produksi pada periode berikutnya. Apabila perusahaan tidak dapat menjual produknya sesuai target maka akan menimpulkan penumpukan barang, sehingga pada periode berikutnya volume produksi akan dikurangi.  Pada gilirannya, volume produksi akan mempengaruhi besar kecilnya biaya produksi yang harus ditanggung perusahaan. Ketika volume produksi sedikit, maka kemungkinan memperoleh laba juga akan kecil.
Rumus keterkaitan antara Biaya, Volume, dan Laba
Laba = Pendapatan Penjualan – Biaya Variabel – Biaya Tetap
Laba = (Harga x Jumlah Unit Terjual) – (Biaya Variabel perunit x Jumlah Unit Terjual) – Total Biaya Tetap
Total Revenue (TR) = biaya + Laba = (FC + VC) + laba
Faktor-faktor yg mempengaruhi besarnya laba dengan memperhitungkan pendekatan :
Pendekatan 1 : Analisis Titik Impas (Break Even Analysis)
Yaitu perusahaan harus menentukan/menghitung/menetapkan terlebih dulu sebuah angka yang menunjukkan sebuah besaran kuantitas/jumlah produksi yang harus diproduksi dan dijual yang menunjukkan pada titik/kondisi tsb, perusahaan tidak memperoleh keuntungan dan tidak menderita kerugian.
Berdasarkan analisis ini, perusahaan dapat mengetahui jumlah penjualan minimum yang harus dicapai (dalam unit produksi maupun satuan uang) agar perusahaan tidak menderita kerugian.
Asusmi BEP
1.    Harga jual perunit tidak berubah ubah pada berbagai volume penjualan
2.    Perusahaan berproduksi pada jarak kapasitas yang konstan
3.    Biaya dipisahkan menjaddi biaya tetap dan biaya variabel
4.    Tidak memperhitungkan jumlah persediaan awal dan akhir
5.    Jika perusahaan menjual lebih darri satu macam produk, komposisi produk yang dijual dianggap tidak berubah
Metode untuk menentukan titik impas:
1.    Metode aljabar
Persamaan aljabar : Penghasilan Total = Biaya Total
Atau Penghasilan Total = Biaya Tetap Total + Biaya Variabel Total



 



Contoh PT. RAJAWALI
Harga jual per unit produk                         = Rp.  30.000
Biaya Variabel per unit produk                  = Rp.  16.500
Total Biaya Tetap per tahun                       = Rp.148.500
Maka perhitungan titik impasnya adalah



Sehingga, perusahaan harus menjual produknya sebanyak 11 unit atau senilai Rp. 330.000 agar perusahaan tidak menderita rugi
Pendekatan 2 : Marjin Kontribusi
Adalah selisih antara pendapatan penjualan dengan total biaya variabelà besaran untuk menutup biaya tetap dan memberikan keuntungan perunit


 

                                       = (harga jual . unit) – (VC . unit)
Sesuai dengan contoh kasus diatas, jika ditentukan perusahaan menjual produk sebanyak 15 unit, maka marjin kontribusinya adalah
Marjin Kontribusi = (30.000 . 15) – (16.500 . 15) = Rp. 202.500
     Margin Contribusi dapat dinyatakan dalam suatu persentase dari pendapatan penjualan
RMC (Rasio Margin Contribusi) = Margin Kontribusi  x 100%
    Penjualan
v Semakin tinggi RMC semakin baik  
v Semakin tinggi/besar marjin kontribusi, maka kemampuan perusahaan untuk menutup biaya tetap sangat besar, sehingga perusahaan akan memperoleh laba yang besar.
Pendekatan 3 : Marjin Keamanan / Margin Of Safety (MOS)
Rasio MOS =      MOS      x 100%
                        Penjualan
 
Margin Pengaman/MOS = Penjualan – BEP
 
Kelebihan penjualan yang dianggarkan di atas volume penjualan impas à seberapa banyak penjualan boleh turun sebelum perusahaan menderita kerugian. Menunjukkan tingkat resiko mendapatkan kerugian jika terjadi kenaikan titik impas akibat suatu kondisi

                    
PT RAJAWALI

Jumlah
%
Penjualan
Biaya Variabel
Rp 450.000
Rp 247.500
100
55
Margin Kontribusi
Biaya Tetap
Rp 230.000
Rp 148.500
45
Laba Bersih
Rp   54.000

Titik Impas = Rp 148.500 : (1-16.500 : 30.000)
MOS = Rp 450.000 – Rp 330.000
Persentase MOS = Rp 120.000 : Rp 450.000 x 100%
Rp 330.000
Rp 120.000



27%
Analisis biaya, volume, dan laba thd perubahan harga jual perunit
Perubahan harga jual produk akan mempengaruhi volume penjualan dan laba perusahaan.
Sesuai contoh kasus pada PT. RAJAWALI, harga jual per unit dari semua Rp. 30.000 menjadi Rp. 32.000, jika volume penjualan tetap 15 unit. Maka akan mempengaruhi laba perusahaan dari Rp. 55.000 menjadi :
Rp. 32.000 (15) = Rp. 148.500 + Rp. 16.500 (15) + Laba
Laba = Rp. 480.000 – (148.000 + 247.500)
Laba = 84.000 => laba meningkat.
Tetapi jika perusahaan tetap menginginkan laba sebesar Rp. 55.000, maka akan mempengaruhi volume penjualan menjadi:
32.000 (x) = 148.500 + 16.500 (x) + 55.000
15.500 (x) = 203.500
x = 13 unit.
Analisis biaya, volume, dan laba thd perubahan volume penjualan
Perubahan volume penjualan akan mempengaruhi total biaya dan laba perusahaan
Sesuai dengan contoh kasus PT. Rajawali, dengan meningkatkan volume penjualan dari 15 unit menjadi 25 unit, dengan harga jual sebesar Rp. 30.000. maka total biaya dan laba perusahaan berubah menjadi:
Rp. 30.000 (15) = Rp. 148.500 + Rp. 16.500 (15) + LABA
LABA = Rp. 450.000 – Rp. 396.000
LABA = Rp. 54.000 berubah menjadi
Rp. 30.000 (25) = Rp. 148.500 + Rp. 16.500 (25) + LABA
LABA = Rp. 750.000 – Rp. 561.000 = Rp. 189.000
Analisis biaya, volume, dan laba thd perubahan biaya variabel per unit
Perubahan biaya variabel per unit akan mempengaruhi total biaya dan laba perusahaan
Sesuai dengan contoh kasus PT. RAJAWALI, apabila volume produksi tetap sebesar 15 unit, sedangkan biaya variabel per unit naik dari Rp. 16.500 menjadi Rp. 20.000, maka total biaya dan laba akan berubah menjadi:
Rp. 30.000 (15) = Rp. 148.500 + Rp. 16.500 (15) + LABA
LABA = Rp. 450.000 – Rp. 396.000
LABA = Rp. 54.000 berubah menjadi
Rp. 30.000 (15) = Rp. 148.500 + Rp. 20.000 (15) + LABA
LABA = Rp. 450.000 – Rp. 448.500 = Rp 1.500
Terjadi juga kenaikan total biaya dari Rp. 396.000 menjadi
Rp. 448.500, dengan penurunan laba sebesar Rp. 52.500
Analisis biaya, volume, dan laba thd perubahan biaya tetap
Perubahan biaya tetap akan mempengaruhi total biaya&laba. Tetapi tdk mempengaruhi MC.
Sesuai dengan contoh kasus PT. RAJAWALI, apabila volume produksi sebesar 15 unit, sedangkan biaya tetap naik dari Rp. 148.500 menjadi Rp. 150.000, maka total biaya dan laba akan berubah menjadi:
Rp. 30.000 (15) = Rp. 148.500 + Rp. 16.500 (15) + LABA
LABA = Rp. 450.000 – Rp. 396.000
LABA = Rp. 54.000 berubah menjadi
Rp. 30.000 (15) = Rp. 150.000 + Rp. 16.500 (15) + LABA
LABA = Rp. 450.000 – Rp. 397.500 = Rp 52.500
Terjadi juga kenaikan total biaya dari Rp. 396.000 menjadi
Rp. 397.500, dengan penurunan laba sebesar Rp. 1.500
Perubahan komposisi produk
Analisis biaya-volume-laba digunakan untuk perusahaan yang memproduksi/menjual  macam produk. Akan berakibat sebagai berikut :
1.    Ketika perubahan komposisi produk mengakibatkan penurunan laba perusahaan, maka nilai impas dalam satuan uang akan naik, dan terjadi penurunan rasio marjin kontribusi.
2.    Ketika perubahan komposisi produk mengakibatkan kenaikan laba perusahaan, maka nilai impas dalam satuan uang akan turun, dan terjadi kenaikan rasio marjin kontribusi.
Perencanaan laba dan pajak penghasilan
Perhitungan yang dilakukan dimuka, didasarkan atas laba sebelum memperhitungkan pajak penghasilan (EBIT). Padahal pajak juga merupakan faktor yang harus pula diperhitungkan. Untuk mengetahui laba setelah perhitungan pajak (EAT), dapat digunakan rumus:
Laba sebelum Pajak yang diinginkan = Laba setelah Pajak yang diinginkan
1 – tarif pajak

BAB IV
ACTIVITY BASED COSTING (ABC) & ACTIVITY BASED MANAGEMENT (ABM)

Activity Based Costing (ABC) atau Biaya berbasis aktivitas
ABC merupakan sistem penentuan biaya yg membebankan biaya ke objek biaya seperti produk/jasa berdasarkan aktivitas yg mengkonsumsi sumber daya.
Aktivitas ini dapat berupa kejadian, tugas, atau unit kerja yang memiliki tujuan tertentu. Jadi, dengan sistem ABC biaya akan dihitung pada masing-masing aktivitas dan dibebankan ke objek biaya berdasarkan konsumsi dari aktivitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk atau jasa.
ABC adalah suatu sistem informasi akuntansi yang mengidentifikasi berbagai aktivitas yang dikerjakan dalam suatu organisasi dan mengumpulkan biaya dengan dasar dan sifat yang ada dan perluasan dari aktivitasnya. ABC memfokuskan pada biaya yang melekat pada produk berdasarkan aktivitas untuk memproduksi, mendistribusikan atau menunjang produk yang bersangkutan.
Sistem ABC timbul sebagai akibat dari kebutuhan manajemen akan informasi akuntansi yang mampu mencerminkan konsumsi sumber daya dalam berbagai aktivitas untuk menghasilkan produk secara akurat. Hal ini didorong oleh:
o  Persaingan global yang tajam yang memaksa perusahaan untuk cost effective
o  Advanced manufacturing technology yang menyebabkan proporsi biaya overhead pabrik dalam product cost menjadi lebih tinggi dari primary cost.
o  Adanya strategi perusahaan yang menerapkan market driven strategy
ABC memusatkan perhatiannya pada biaya tidak langsung (indirect cost). Hal ini karena biaya tidak langsung merupakan biaya yang sulit untuk ditelusuri terhadap objek biaya. Sementara biaya langsung dapat dengan mudah ditelusuri ke objek biaya.
Dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya tidak langsung tersebut disebut drivers. Sebuah driver sumber daya (resource driver) adalah sebuah dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya sumber daya ke aktivitas-aktivitas yang berbeda. Driver aktivitas (activity driver) adalah sebuah dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya aktivitas ke produk, pelanggan, atau objek biaya akhir.
http://2.bp.blogspot.com/_J6W0XYWxAAs/S5Eg6avtKmI/AAAAAAAAACE/6ld4hprzTCo/s320/Gambar.JPG
Kelemahan sistem akuntansi biaya tradisional:
       Akuntansi biaya tradisional dirancang hanya menyajikan informasi biaya pada tahap produksi.
       Alokasi biaya overhead pabrik hanya didasarkan pada jam tenaga kerja langsung atau hanya dengan volume produksi.
       Ada diversitas produk, dimana masing-masing produk mengkonsumsi biaya overhead yang berbeda beda.
       Suatu keterbatasan dari sistem penentuan biaya tradisional adalah mengalokasikan biaya tidak langsung dengan menggunakan tarif tunggal atau berbasis volume. Kenyataannya banyak biaya tidak langsung yang tidak berbasis volume, sehingga dapat mengakibatkan distorsi dalam penentuan biaya produk. ABC membantu dalam mengurangi masalah tersebut.
 
ACTIVITY BASED MANAGEMENT (ABM)
ABM adalah pendekatan untuk keseluruhan sistem yang terintegrasi dan berfokus pada perhatian manajemen atas berbagai aktifitas dengan tujuan meningkatkan nilai bagi pelanggan dan laba yang dicapai dengan mewujudkan yang dicapai ini.
Salah satu informasi yang dibutuhkan oleh manajemen adalah mengenai keberadaan biaya- biaya, beban- beban, tanggungan- tanggungan yang disediakan oleh ABC.
ABM memiliki 2 dimensi: dimensi biaya dan dimensi proses.
76006_f0501
Dimensi biaya memberikan informasi biaya mengenai sumber daya, aktifitas, dan obyek biaya yang menjadi perhatian, seperti produk, pelanggan, pemasok, dan saluran distribusi untuk memperbaiki akurasi pembebanan biaya. (disediakan oleh ABC)
Dimensi proses memberikan informasi mengenai aktifitas apa saja yang dilakukan, mengapa harus dilakukan, dan seberapa baik aktifitas2 tersebut dilakukan, untuk mengurangi biaya, pemborosan, melakukan perbaikan berkelanjutan. (Disediakan oleh PVA)
ABM IMPLEMENTATION MODEL
76006_f0502 
KINERJA AKTIVITAS
     Dievaluasi menggunakan tiga dimensi :
    Efisiensi : menghasilkan output aktifitas yang sama dengan input yang lebih rendah
    Kualitas : mengeliminasi waste, pemborosan, dan non value added activity
    Waktu : berkaitan dengan siklus produksi, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi, semakin banyak sumber daya yang dibutuhkan.
     Ukuran kinerja kualitas
    Balanced scorecard
    Standar Kaizen (plan, do, check, act)
    Six sigma, dll.
BAB V
PENENTUAN HARGA POKOK PRODUK

Pihak manajemen perusahaan perlu membuat kebijakan yang mengacu pada terciptanya efisiensi dan efektivitas kerja agar Perusahaannya ingin berkembang dan terus menjaga kelangsungan hidupnya. Kebijakan tersebut dapat berupa penetapan harga pokok produksi, yaitu dengan cara menekan biaya produksi serendah mungkin dan tetap menjaga kualitas dari barang atau produk yang dihasilkan, sehingga harga pokok produk satuan yang dihasilkan perusahaan lebih rendah dari yang sebelumnya. Kebijakan ini sangat bermanfaat bagi perusahaan untuk menetapkan harga jual yang tepat dengan laba yang ingin diperoleh perusahaan, sehingga perusahaan tersebut dapat bersaing dengan perusahaan–perusahaan lain yang memproduksi produk sejenis. Hal ini tentunya tidak terlepas dari tujuan didirikannya perusahaan yaitu agar modal yang ditanamkan dalam perusahaan dapat terus berkembang atau dengan kata lain mendapatkan laba semaksimal mungkin. Kesalahan dalam perhitungan harga pokok produksi dapat mengakibatkan penentuan harga jual pada suatu perusahaan menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Kedua kemungkinan tersebut dapat mengakibatkan keadaan yang tidak menguntungkan bagi perusahaan, karena dengan harga jual yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan produk yang ditawarkan perusahaan akan sulit bersaing dengan produk sejenis yang ada di pasar, sebaliknya jika harga jual produk  terlalu rendah akan mangakibatkan laba yang diperoleh perusahaan rendah pula. Kedua hal tersebut dapat diatasi dengan penentuan harga pokok produksi dan harga jual yang tepat.
Adalah cara untuk memperhitungkan unsur-unsur biaya kedalam harga pokok produksi. Memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi:
1.    Metode Full Costing
Merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang berperilaku variabel maupun tetap.
Pendekatan full costing biasa dikenal sebagai pendekatan tradisional menghasilkan laporan laba rugi dimana biaya-biaya di organisir dan sajikan berdasarkan fungsi-fungsi produksi, administrasi dan penjualan. Laporan laba rugi yang dihasilkan dari pendekatan ini banyak digunakan untuk memenuhi pihak luar perusahaan, oleh karena itu sistematikanya  harus disesuaikan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum untuk menjamin informasi yang tersaji dalam laporan tersebut.
2.    Pendekatan Variabel Costing
Merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam harga pokok produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel.
Biaya-biaya yang diperhitungkan sebagai harga pokok adalah biaya produksi variabel yang terdiri dari biaya BB, BTK dan BOP variabel. Biaya-biaya produksi tetap dikelompokkan sebagai biaya periodik bersama-sama dengan biaya tetap non produksi.
Pendekatan variabel costing di kenal sebagai contribution approach merupakan suatu format laporan laba rugi yang mengelompokkan biaya berdasarkan perilaku biaya dimana biaya-biaya dipisahkan menurut kategori biaya variabel dan biaya tetap dan tidak dipisahkan menurut fungsi-fungsi produksi, administrasi dan penjualan.
Dalam pendekatan ini biaya-biaya berubah sejalan dengan perubahan out put yang diperlakukan sebagai elemen harga pokok produk. Laporan laba rugi yang dihasilkan dari pendekatan ini banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pihak internal oleh karena itu tidak harus disesuaikan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Perbedaan full costing dg variabel costing
FULL COSTING
VARIABLE COSTING

  Dimasukkan unsur biaya produksi karena masih berhubungan dengan pembuatan produk berdasar tarif (budget), sehingga apabila produksi sesungguhnya berbeda dengan budgetnya maka akan timbul kekurangan atau kelebihan pembebanan.
  Unsur biaya terdiri dari BBB, BTKL dan BOP yang sifatnya tetap maupun variable.
  Perhitungan harga pokok produksi dan penyajian laporan laba rugi didasarkan pendekatan “fungsi”. Sehingga apa yang disebut sebagai biaya produksi  adalah seluruh biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi, baik langsung maupun tidak langsung, tetap maupun variabel.
  Perhitungan laba rugi menggunakan istilah laba kotor (gross profit), yaitu kelebihan penjualan atas harga pokok penjualan.
  Biaya periode diartikan sebagai biaya yang tidak berhubungan dengan biaya produksi, dan biaya ini dikeluarkan dalam rangka mempertahankan kapasitas yang diharapkan akan dicapai perusahaan, dengan kata lain biaya periode adalah biaya operasi.
  Biaya overhead tetap diperhitungkan dalam harga pokok, sedangkan dalam variabel costing biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periodik. Oleh karena itu saat produk atau jasa yang bersangkutan terjual, biaya tersebut masih melekat pada persediaan produk atau jasa.
  Memperlakukan biaya produksi tidak langsung tetap bukan sebagai unsur harga pokok produksi, tetapi lebih tepat dimasukkan sebagai biaya periodik, yaitu dengan membebankan seluruhnya ke periode dimana biaya tersebut dikeluarkan sehingga dalam variabel costing tidak terdapat pembebanan lebih atau kurang.
  Unsur biaya terdiri dari BBB, BTKL dan BOP yang sifatnya variabel saja&tidak termasuk biaya overhead pabrik tetap.
  Menggunakan pendekatan “perilaku”, artinya perhitungan harga pokok dan penyajian dalam laba rugi didasarkan atas perilaku biaya. Biaya produksi dibebani biaya variabel saja, dan biaya tetap dianggap bukan biaya produksi.
  Biaya periode adalah biaya yang setiap periode harus tetap dikeluarkan atau dibebankan tanpa dipengaruhi perubahan kapasitas kegiatan. Dengan kata lain biaya periode adalah biaya tetap, baik produksi maupun operasi. Biaya tersebut langsung diakui sebagai biaya pada saat terjadinya.
  Menggunakan istilah marjin kontribusi (contribution margin), yaitu kelebihan penjualan dari biaya-biaya variabel.

Kelemahan Full Costing
Kelemahan Variabel Costing
  Alokasi biaya overhead pabrik hanya didasarkan pada jam tenaga kerja langsung atau hanya dengan volume produksi.
  Ada diversitas produk, dimana masing-masing produk mengkonsumsi biaya overhead yang berbeda beda.
  Mengalokasikan biaya tidak langsung dengan menggunakan tarif tunggal atau berbasis volume. Kenyataannya banyak biaya tidak langsung yang tidak berbasis volume, sehingga dapat mengakibatkan distorsi dalam penentuan biaya produk.
  Kesulitan memisahkan biaya tetap dan variable.
  Tidak dapat diterima pihal eksternal.

Keunggulan Full Costing
Keunggulan Variabel Costing
  Dirancang hanya menyajikan informasi biaya pada tahap produksi.

  Alat perencanaan operasi, tersedianya data yg akurat mengenai biaya variabel dan margin kontribusi, memungkinkan perusahaan mengambil keputusan secara tepat.
  Penetapan harga jual, dengan mengetahui besarnya marjin kontribusi, perusahaan dapat menentukan harga jual yang dapat manutup biaya-biaya tetap (sewa, pajak, gaji manajemen, dll).
  Alat pengendalian manajemen.




Bentuk laporan rugi-laba berdasarkan metode full costing dan variabel costing :

Metode full costing
Hasil penjualan                        xxx
HPP termasuk BOP tetap       (xxx)
            Laba kotor                   xxx
Biaya pemasaran         xxx
Biaya adm.&umum     xxx
                                                (xxx)
Laba bersih                              xxx






Metode variabel costing
Hasil penjualan                                 xxx
Biaya variabel :
HPP penj tdk termasuk BOP  xxx
By. Pemasaran variabel           xxx
By. Adm.&umum variabel     xxx
                                                   (xxx)
Marjin Kontribusi (MC)              xxx
Biaya tetap :
BOP tetap                             xxx
By. pemasaran tetap             xxx
By. Adm.&umum tetap        xxx
                                                      (xxx)
Laba bersih                                       xxx

BAB VII
ANALISIS BIAYA RELEVAN TIPE INFORMASI AKUNTANSI

Informasi Akuntansi Diferensial : Menyajikan informasi mengenai taksiran pendapatan, biaya, dan atau aktiva yang berbeda jika suatu tindakan tertentu dipilih, dibandingkan dengan alternatif tindakan yang lain. Digunakan untuk pemecahan masalah pemilihan akternatif
Pendapatan Diferensial : Merupakan pendapatan yang berbeda dalam suatu kondisi dibandingkan dengan kondisi-kondisi yang lain.
Biaya Diferensial : Biaya yang berbeda dalam suatu kondisi, dibandingkan dengan kondisi-kondisi  yang lain sering disebut dengan biaya relevan yang digunakan untuk pemilihan alternatif. Setiap kondisi memiliki alternatif-alternatif keputusan yang harus dipilih, manajemen harus memiliki informasi yang akurat untuk setiap alternatif, sehingga dapat mengambil keputusan dengan tepat. Misalnya informasi mengenai biaya, dianggap relevan bila pada setiap alternatif berbeda besarnya.
Pengambilan Keputusan Khusus :
1.    Menerima/menolak pesanan penjualan khusus
Jika perusahaan beroperasi pada kapasitas penuh, maka mengerjakan pesanan khusus akan menyebabkan kenaikan biaya produksi, (tetap&variable) sehingga biaya produksi tetap dan variabel merupakan biaya diferensial/relevan yang harus diperhatikan.
Jika perusahaan beroperasi belum mencapai kapasitas maksimal, maka mengerjakan pesanan khusus akan menyebabkan kenaikan biaya produksi variabel, sehingga biaya produksi variabel merupakan biaya diferensial / relevan yang harus diperhatikan.
Jika pengerjaan pesanan khusus ini akan menaikkan biaya usaha yg lain (biaya adiministasi, biaya pemasaran), maka biaya ini juga merupakan biaya diferensial / relevan yang harus diperhatikan.
Contoh

Volume penjualan 1000 unit
Harga jual reguler Rp 2.000 per unit
Biaya produksi variabel per unit Rp 1.200
Biaya produksi tetap Rp. 300.000
Biaya usaha Rp 150.000
Volume pesanan khusus 100 unit
Harga jual pesanan khusus Rp 1.400 per unit

Apakah perusahaan akan menerima atau menolak pesanan khusus tersebut?
Perhitungan rugi-laba tanpa pesanan khusus
Perhitungan rugi-laba dengan pesanan khusus
Kesimpulan
v Jika memutuskan menerima pesanan khusus, maka perusahaan menanggung incremental cost (biaya tambahan) sebesar Rp. 120.000
v Incremental cost adalah salah satu istilah dalam pengertian biaya relevan yang manggambarkan tambahan biaya yang akan terjadi bila suatu alternatif dipilih.
v Sebaiknya perusahaan menerima pesanan khusus tersebut karena akan menghasilkan tambahan pendapatan sebesar Rp. 140.000 lebih besar dari tambahan biaya yang harus dikeluarkan yaitu Rp. 120.000
2.    Pengurangan/penambahan jenis produk/departemen
Misalkan perusahaan menambah departemen baru, yaitu Departemen Kosmetik. Diketahui taksiran hasil penjualan Rp. 3.000.000, biaya variabel Rp. 2.100.000 dan biaya tetap terhindarkan Rp. 350.000. Perusahaan harus meneruskan departemen makanan atau menambah departemen baru yaitu departemen kosmetik?
Laporan rugi-laba
Kesimpulan
v Perusahaan sebaiknya memilih alternatif II yaitu mengganti dep Makanan dg dep Kosmetik. Karena perusahaan hanya akan mengorbankan opportunity cost sebesar Rp 2.000.000 lebih kecil jika perusahaan meneruskan dep makanan akan menanggung biaya sebesar Rp 2.300.000
3.    Membuat sendiri/membeli bahan baku produksi
Berkaitan dengan penggunaan bahan produksi, misalnya suku cadang tertentu, perusahaan belum mencapai kapasitas penuh, maka untuk memenuhi permintaan volume penjualan yang meningkat, maka dipertimbangkan untuk membuat sendiri atau membeli dari luar suku cadang tersebut.
Contoh kasus
Perusahaan bidang perakitan memproduksi sendiri salah satu jenis suku cadang yang diperlukan. Berikut perhitungan biaya produksinya:

Per Unit
8000 Unit
Biaya Bahan Baku
Rp 30
Rp 240.000
Biaya Tenaga Kerja Langsung
40
320.000
Biaya Overhead:
-  Variabel
- Tetap, terdiri atas:
  Gaji Pengawas
  Penyusutan Peralatan
  Alokasi Dept. Lain

10

30
20
50

80.000

240.000
160.000
400.000
Total Biaya Produksi
Rp 180
Rp 1.440.000
Perusahaan mendapatkan tawaran suku cadang sejenis dari perusahaan lain seharga Rp 150 per unit.
Dalam analisis biaya relevan, muncul istilah biaya tenggelam (sunk cost) yaitu biaya yang timbul sebagai akibat dari pengambilan keputusan dimasa lalu, contoh biaya penyusutan, depresiasi, amortisasi. Dalam kasus yang berkaitan dengan keputusan membuat sendiri atau membeli sparepart dari luar, sunk cost bukan termasuk biaya relevan, jadi tidak di perhitungkan.
Dengan mengurangi total biaya produksi dengan biaya penyusutan dan alokasi dari dept. lain, maka didapatkan biaya produksi jika membuat sparepart sendiri adalah Rp. 110 lebih rendah dari membeli yaitu Rp. 150.
Maka keputusannya adalah membuat sendiri.
4.    Menyewakan atau menjual fasilitas perusahaan
Contoh kasus

Harga perolehan mesin Rp. 2.000.000
Akum penyusutan peralatan Rp. 1.200.000
Bila disewakan, perusahaan memperoleh pendapatan Rp. 1.250.000 pertahun
Harga jual mesin Rp. 1.000.000
Biaya reparasi & asuransi mesin Rp 350.000
Bila dijual, perusahaan harus membayar komisi perantara Rp. 60.000
Bagaimana keputusannya?

Menyewakan
Menjual
Perbedaan
Pendapatan
Rp. 1.250.000
Rp. 1.000.000
Rp. 250.000
Biaya



- Reparasi dan asuransi
350.000
60.000
290.000
Pendapatan bersih
Rp. 900.000
Rp. 940.000
Rp. 40.000
Kesimpulan :
Perusahaan lebih baik menjual mesin tersebut karena akan memperoleh pendapatan bersih lebih banyak daripada menyewakan karena mendapatkan keuntungan sebesar Rp 40.000
5.    Menjual/memproses lebih lanjut hasil produksi
Contoh kasus
Perusahaan menghasilkan 10.000 unit produk A. harga jual produk A Rp 500 per unit. Produk A dapat diproses lebih lanjut menjadi produk B diperlukan tambahan biaya Rp 25 per unit. Setiap 100 unit produk A diolah menjadi 80 unit produk B. harga jual produk B Rp 750 per unit.
Perusahaan sebaiknya menjual produk A atau diolah dulu menjadi produk B??

Menjual Langsung
Memproses Lebih Lanjut
Perbedaan
Hasil Penjualan



10.000 x Rp. 500
Rp. 5.000.000
-
-
8.000 x Rp. 750
-
Rp. 6.000.000
Rp. 1.000.000
Biaya Pengolahan



10.000 x Rp. 25
-
Rp. 250.000
Rp. 250.000
Selisih
-
-
Rp. 750.000
Selisih lebih menguntungkan jika produk A diproses lebih lanjut
Contoh kasus
Misal perusahaan mengolah produk A, B, can C dengan menggunakan bahan baku yang sama. Berikut adalah informasi alokasi biaya produk bersama, harga jual sebelum dan sesudah diproses lebih lanjut, dan biaya pengolahan lebih lanjut pada masing2 produk.

Alokasi biaya produk bersama
Harga jual sebelum pengolahan lebih lanjut
Biaya pengolahan lebih lanjut
Harga jual setelah perngolahan lebih lanjut
A
Rp. 800.000
Rp. 1.200.000
Rp. 500.000
Rp. 1.600.000
B
1.000.000
1.500.000
600.000
2.400.000
C
400.000
600.000
100.000
900.000
Keputusan yang akan diambil oleh manajemen adalah produk apa yang sebaiknya langsung dijual dan produk apa yang sebaiknya diproses lebih lanjut ????
Analisis nya adalah sebagai berikut :

Produk
A
B
C
Harga jual setealh diproses
Rp1.600.000
Rp2.400.000
Rp900.000
Harga jual sebelum diproses
1.200.000
1.500.000
600.000
Tambahan pendapatan jika diproses lebih lanjut
Rp. 400.000
900.000
Rp300.000
Tambahan biaya jika diproses lebih lanjut
500.000
600.000
100.000
Selisih menguntungkan jika di proses lebih lanjut
(Rp100.000)
Rp300.000
Rp200.000
Text Box: Langsung dijual karena tambahan pendapatan jika diproses lebih lanjut < daripada tambahan biaya yg harus ditanggung perusahaanText Box: Diproses lebih lanjut karena tambahan pendapatan jika diproses lebih lanjut > daripada tambahan biaya yg harus ditanggung perusahaan


6.    Penggantian aktiva tetap
Alasan : a. Keausan / kerusakan fisik
  b. Perkembangan teknologi
Contoh Kasus
Berikut data mengenai mesin lama&mesin baru yg diusulkan sbg pengganti mesin lama

Mesin Lama
Mesin Baru
Harga Perolehan
Rp. 10.000.000
Rp. 12.000.000
Nilai Buku
8.000.000
-
Taksiran Umur Ekonomis
5 tahun
4 tahun
Sisa Umur Ekonomis
4 tahun
4 tahun
Nilai Jual Sekarang
3.000.000
-
Nilai Jual 4 tahun y . a. d
0
0
Biaya Operasional variabel per tahun
20.000.000
15.000.000
Penyusutan pertahun mesin lama dan mesin baru dilakukan dengan menggunakan metode garis lurus, perhitungannya adalah sebagai berikut :

Alternatif I
Terus Menggunakan Mesin Lama
Alternatif II Menggunakan Mesin Baru
Biaya Diferensial selama 4 tahun
Harga Perolehan (penyusutan) mesin baru
-
Rp12.000.000
Rp12.000.000
Nilai Jual Mesin Lama
(Rp3.000.000)
-
(3.000.000)
Biaya Operasi Variabel
80.000.000
62.000.000
(18.000.000)



Rp. 9.000.000
Kesimpulan : Jika memilih alternatif I maka perusahaan akan menanggung biaya tambahan sebesar Rp. 18.000.000, sedangkan jika memilih alternatif II maka perusahaan dapat menghemat biaya tersebut.
Peniadaan jenis produk/departemen
Pengambilan keputusan timbul karena terdapat jenis produk/departemen dalam perusahaan yang menderita kerugian secara terus menerus. Sehingga perlu mempertimbangkan adanya biaya terhindarkan (avoidable cost) dan biaya tak terhindarkan (unavoidable cost). Biaya terhindarkan adalah biaya-biaya yang tidak akan terjadi jika suatu jenis produk / departemen dieliminasi. Biaya terhindarkan merupakan biaya relevan yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan alternatif keputusan. Sedangkan Biaya tak terhindarkan adalah biaya-biaya yang tetap akan terjadi jika suatu jenis produk / departemen dieliminasi
Contoh kasus
Sebuah departemen store memiliki 3 departemen utama, yaitu Makanan, Kelontong, dan Obat-obatan. Berikut taksiran perhitungan laba rugi setiap departemen :
Laporan rugi-laba dg memasukkan pendapatan diferensial dan biaya diferesial
Kesimpulan
Apabila perusahaan meniadakan Departemen Makanan, maka akan mengorbankan pendapatan sebesar Rp. 5.000.000 lebih besar dari pada biaya yang dapat dihindarkan Rp. 4.750.000, sehingga manajemen harus meneruskan Departemen makanan.
Adanya biaya kesempatan (opportunity cost), yaitu pendapatan atau penghematan biaya yang dikorbankan sebagai akibat dari dipilihnya alternatif tertentu (Rp. 5.000.000)

BAB VIII
PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN MANAJEMEN TIPE INFORMASI AKUNTANSI

Informasi Akuntansi Pertanggungjawaban
Pengendalian Manajemen Adalah proses yg menjamin bahwa kegiatan-kegiatan yg telah dilaksanakan sesuai dg hasil yang diharapkan, yaitu organisasi telah melaksanakan strateginya dengan efektif dan efisien.
Proses Pengendalian Manajemen terdiri dari 2 aktivitas:
1.    Perencanaan : Melihat kedepan untuk memutuskan aktivitas yang seharusnya dikerjakan
2.    Pengendalian : Melihat kebelakang untuk memastikan apakah hasil yang dikehendaki telah tercapai
Manajer Pusat-Pusat Pertanggungjawaban
Suatu segmen bisnis atau bagian atau unit organisasi yang mana manajernya bertanggungjawab terhadap peraturan kegiatan-kegiatan tertentu untuk menciptakan kondisi dimana setiap rencana yang disusun dapat terealisasikan.
Digolongkan menjadi 4 :
1.    Pusat Biaya
Pusat pertanggungjawaban yang bertanggungjawab hanya pada biaya dan tidak bertanggungjawab atas pendapatan yang dihasilkan. Digolongkan menjadi 2 :
  Pusat biaya teknis (enjiner) adalah biaya yang mempunyai hubungan fisik optimal (erat dan nyata) dengan outputnya. Contoh : pada departemen produksi
  Pusat biaya kebijakan (diskresionari) yaitu biaya yang tidak mempunyai hubungan fisik secara optimal dengan outputnya sehingga sulit diukur secara kuantitatif. Contoh : pada departemen administrasi dan umum
2.    Pusat Pendapatan
Pusat pertanggungjawaban yang bertanggungjawab pada pendapatan yang dihasilkannya. Contoh : Departemen Pemasaran, kinerjanya diukur berdasarkan pendapatan yang dihasilkannya dari penjualan produk atau jasa.
3.    Pusat Laba
Merupakan pusat pertanggungjawaban yangmana input dan outputnya diukur dengan menghitung selisih antara pendapatan dengan biaya.
Pusat laba umumnya terdapat pada organisasi yang dibagi-bagi berdasarkan divisi-divisi penghasilan laba. Biasanya ditetapkan pada perusahaan yang memproduksi lebih dari satu macam produk atau jasa. Masing-masing divisi merupakan pusat laba.
4.    Pusat Investasi
Merupakan pusat pertanggungjawaban yang mana prestasi manajernya dinilai berdasarkan laba yang dihasilkan dikaitkan dengan investasi yang ditanamkan pada pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya.
Laba yang tinggi belum tentu identik dengan kinerja yang baik bila dikaitkan dengan besarnya investasi yang dikeluarkan. Pengukuran kinerja pusat investasi dilakukan dengan 2 perhitungan :
1)   ROI (Return on Investment)     tingkat pengembalian atas investasi yg digunakan untuk menghasilkan laba. Yaitu merupakan rasio antara laba dengan jumlah investasi yang biasanya dinyatakan dalam prosentase, rumusnya :
ROI = Laba Operasi (EBIT) x 100%
         Aktiva Operasi Rata – Rata
Aktiva operasi adalah aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba operasi termasuk kas, piutang, persediaan, tanah, gedung, dan peralatan. Semakin tinggi ROI semakin bagus perusahaan tersebut.
2)   RI = Residual Income
adalah selisih antara laba operasi dan pengembalian minimal yang disyaratkan oleh aktiva operasi perusahaan
      RI = Laba operasi – (tingkat pengembalian minimal x aktiva operasi)
Atau RI = laba /EAT / EBIT – (target laba x nilai laba)
Kelebihan ROI
Kelebihan RI
  Manajer fokus pada hubungan antara penjualan, beban, dan investasi
  Fokus pada efisiensi biaya
  Fokus pada efisiensi aktiva operasi
  Metode pengukuran yang obyektif berdasarkan pada data akuntansi yang tersedia
  Memungkinkan pembandingan kinerja antar divisi
  Mendorong manajer untuk menerima proyek apapun yang menghasilkan pengembalian diatas tingkat minimal, tetapi akan menciptakan orientasi jangka pendek.
Kelemahan ROI
Kelemahan RI
  ROI mengakibatkan perhatian pada profitabilitas divisional yang sempit atas beban profitabilitas keseluruan perusahaan
  ROI mendorong para manajer untuk memperhatikan kepentingan angka pendek atas beban jangka panjang.
   
Contoh soal :
1.    Laba yg dihasilkan perusahaan (sebelum ada proyek) sebesar 20 jt dg menggunakan aktiva operasi sebesar 100 jt. Lalu perusahaan mendapatkan tawaran proyek didivisikan dg nilai aktiva operasional 80 jt dan menghasilkan laba 70 jt. Sebagai manajer sebaiknya menerima proyek/menolak jika diukur dari ROI?
2.    Perusahaan mengusulkan ROI 15% dg nilai aktiva operasi 50 jt, perusahaan ditarget laba minimal 10%. Ada peluang investasi dg nilai 10 jt dan menghasilkan laba 1,3 jt dan proyek yg lain dg nilai 4 jt dg tingkat ROI 16%. Pilihannya adalah jika dilihat dari RI perusahaan pilih menerima proyek yg mana/keduanya/tdk sama sekali?
3.    Data proyek yg akan diinvestasikan sbb :
  Proyek I menghasilkan laba 5 jt dg ROI 5%
  Proyek II target ROI 10% dg nilai investasi 100 jt
  Proyek III menghasilkan laba 20 jt dg nilai investasi 300 jt
Jika diukur dg menggunakan ROI sebaiknya memilih :
a)    Salah satu > proyek yg mana ?
b)   Kolaborasi dua proyek > proyek mana ?
c)    Ketiga proyek diterima?
Jawaban :
1.    ROI sebelum proyek = (20 jt : 100 jt) x 100% = 20%
ROI setelah ROI = (90 jt : 180 jt) x 100% = 50%
2.    Tidak menerima proyek apapun
15% = laba
   50 jt
Laba = 7,5 jt
Target laba minimal = 10% x 50 jt = 5 jt
RI = 7,5 jt – 5 jt = 2,5 jt
Menerima proyek I
Total aktiva = 50 jt + 10 jt = 60 jt (nilai invest)
                    = 10% x 60 jt = 6 jt
Total laba = 7,5 jt + 1,3 jt = 8,8 jt
RI = 8,8 jt – 6 jt = 2,8 jt
Menerima proyek II
Nilai aktiva = 50 jt + 4 jt = 54 jt
Laba = 16% x 4 jt = 640 rb
RI = 7.500.000 + 640.000 = 8.140.000 – 5.400.000 = 2.740.000
Menerima proyek I dan II
Nilai aktiva = 50 jt + 10 jt + 4 jt + 64 jt
Laba = 8,8 jt + 640 rb = 9.440.000
Target laba = 10% x 64 jt = 6.400.000
RI = 9.440.000 - 6.400.000 = 3.040.000
Kesimpulan :
v Maka perusahaan memilih alternatif I dan II (memilih kedua proyek) karena tingkat ROI-nya dianggap lebih tinggi.
v Sedangkan jika dilihat dari rmus ekonomisnya maka dipilih alternatif II karena dilihat dari investasi/biaya- biaya/pengeluaran yg terkecil namun menghasilkan laba yg tinggi.
3.    Perhitungan menurut ROI                                                                          (dalam ribuan)

Proyek I
Proyek II
Proyek III
Proyek I+II
Proyek I+III
Proyek II+III
Proyek I+II+III
Laba operasi
5.000
10.000
20.000
15.000
25.000
30.000
35.000
Aktiva
100.000
100.000
300.000
200.000
400.000
400.000
500.000
ROI
5%
10%
6,67%
7,5 %
6,25
7,5%
7%
Kesimpulan :
Memilih proyek II karena tingkat ROI yg tinggi dianggap dapat menghasilkan laba yg tinggi pula yaitu sebesar 10 jt.
ILUSTRASI PERBANDINGAN ROI DAN RI
PT. BUNGA KENCANA memiliki suatu divisi yang memproduksi peralatan rumah tangga dan mendapat kesempatan untuk melakukan investasi dalam dua proyek pada tahun depan. Biaya yang dibutuhkan untuk masing-masing investasi, tingkat pengembalian dan ROI adalah sebagai berikut :

Proyek I
Proyek II
Investasi
Rp. 10.000.000
Rp. 4.000.000
Laba operasi
1.300.000
640.000
ROI
13%
16%
Divisi saat ini menghasilkan ROI sebesar 15%, aktiva operasi Rp. 50juta dan laba operasi atas investasi berjalan Rp. 7,5juta. Divisi telah mendapat persetujuan tambahan investasi sebesar Rp. 15juta untuk investasi modal baru dengan syarat bahwa semua investasi harus menghasilkan laba bersih paling sedikit 10%.
Manajer divisional memiliki empat alternatif. Investasi dalam proyek I; investasi dalam proyek II; investasi dalam proyek I dan II; serta tidak melakukan investasi.
Perhitungan menurut ROI

Proyek I
Proyek II
Kedua Proyek
Tidak ada proyek
Laba operaasi
Rp. 8.800.000
Rp. 8.140.000
Rp. 9.440.000
Rp. 7.500.000
Aktiva operasi
60.000.000
54.000.000
64.000.000
50.000.000
ROI
14,67%
15,07%
14,75%
15,00%
Manajer divisional akan memilih proyek II karena investasi akan meningkatkan ROI dari 15% menjadi 15,7%
Perhitungan menurut RI

Proyek I
Proyek II
Kedua Proyek
Tdk ada proyek
Aktiva operasi
Rp60.000.000
Rp54.000.000
Rp64.000.000
Rp. 50.000.000
Laba Operasi
Rp. 8.800.000
Rp. 8.140.000
Rp. 9.440.000
Rp. 7.500.000
Pengembalian minimal
6.000.000
5.400.000
6.400.000
5.000.000
Laba residu
Rp. 2.800.000
Rp. 2.740.000
Rp. 3.040.000
Rp. 2.500.000
Pengembalian minimal = 10% x aktiva operasi
Dari hasil tabulasi diatas, memperlihatkan bahwa pemilihan kedua proyek akan menghasilkan laba residu yang paling tinggi
Kesimpulan
  Laba residu dan ROI merupakan ukuran kinerja manajerial yang penting, namun keduanya adalah ukuran untuk kepentingan jangka pendek.
  Akibatnya manajer lebih mendahulukan kepentingan jangka pendek daripada beban jangka panjang perusahaan.
  Satu cara untuk mengatasi hal ini adalah diterapkannya ukuran kinerja non keuangan dalam menilai kinerja suatu divisi, misalnya dengan memperhatikan keluhan pelanggan, paktor pasar, pengembangan karyawan, dan inovasi perusahaan.
BAB X
KONSEP BIAYA KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS DEFINISI KUALITAS

Produk atau jasa yang berkualitas adalah yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
Dimensi dari kualitas :
s Kinerja (Performance) : Konsistensi dan seberapa baik fungsi sebuah produk
s Estetika (Aesthetics) : Berhubungan dengan penampilan wujud produk (misal gaya dan keindahan)
s Kemudahan perawatan dan perbaikan (Serviceability) : Berkaitan dengan tingkat kemudahan merawat dan memperbaiki produk
s Fitur (Features) : Karakteristik produk yang berbeda dari produk sejenis yang fungsinya sama (misal mobil)
s Keandalan (Reliability) : Kemungkinan produk atau jasa menjalankan fungsi seperti yang dimaksudkan dalam jangka waktu tertentu.
Definisi kualitas
Jangka waktu produk dapat berfungsi
}  Tahan Lama (Durability)
Ukuran mengenai apakah sebuah produk telah memenuhi spesifikasinya atau tidak
}  Kualitas Kesesuaian (Quality of conformance)
Kecocokan sebuah produk menjalankan fungsi sebagaimana yang diiklankan
}   Kecocokan Penggunaan (Fitness for use)
Cost of Quality (biaya kualitas) adalah biaya-biaya yang timbul karena mungkin atau telah terdapat produk yang kualitasnya buruk. Kegiatan Pengendalian untuk mencegah atau mendeteksi kualitas yang buruk. Kegiatan Karena Kegagalan dilakukan untuk merespon kualitas yang buruk.
Kategori Biaya Kualitas
1.    Biaya Pencegahan (Preventive costs)
Terjadi untuk mencegah kualitas yang buruk pada produk / jasa yang dihasilkan , misalnya biaya untuk perencanaan kualitas, pemilihan dan evaluasi pemasok, audit kualitas
2.    Biaya Penilaian (Appraisal costs)
Terjadi untuk menentukan apakah produk dan jasa telah sesuai dengan persyaratan atau kebutuhan pelanggan, misal biaya pemeriksaan kemasan, biaya pengujian bahan baku
3.    Biaya Kegagalan Internal (Internal failure costs)
Terjadi ketika produk atau jasa tidak sesuai dengan spesifikasi dan kebutuhan pelanggan. Ketidak sesuaian ini dideteksi sebelum dikirim ke pihak luar.
4.    Biaya Kegagalan Eksternal (External failure costs)
Terjadi karena produk atau jasa yang dihasilkan gagal memenuhi persyaratan atau tidak memuaskan kebutuhan pelanggan setelah produk disampaikan ketanggan pelanggan, misal biaya garansi, biaya tanggung jawab hukum, biaya penarikan produk dari pasar.
Klasifikasi Biaya Kualitas
1.    Observable Quality Cost
Biaya-biaya yang tersedia / dapat diperoleh dari catatan akuntansi perusahaan
2.    Hidden Cost
Biaya – biaya yang bersifat opportunity yang tidak bisa dicatat secara langsung oleh pelaporan akuntansi, hanya bisa diestimasi 
Mengukur Biaya Kualitas
Metode untuk mengestimasi biaya-biaya yang bersifat Hidden Cost, yaitu:
1.    Metode Pengali (The Multiplier Method)
Metode pengali mengasumsikan total biaya kegagalan adalah hasil pengalian dari biaya-biaya kegagalan yang terukur.
Total biaya kegagalan eksternal = k (biaya kegagalan eksternal yang terukur)
Dimana k = efek pengali, diperoleh berdasarkan pengalaman. Dengan memasukkan biaya kualitas yang tersembunyi dalam menilai biaya kegagalan eksternal, manajemen dapat menentukan tingkat pengeluaran sumber daya untuk kegiatan pencegahan dan penilaian secara lebih akurat.
2.    Metode Penelitian Pasar (The Market Research Method)
Metode ini menggunakan data formal dari penelitian pasar untuk menilai dampak kualitas yang buruk terhadap penjualan dan pangsa pasar.
Survei pelanggan dan wawancara dengan anggota tim penjualan perusahaan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap besarnya biaya tersembunyi perusahaan.
Hasil penelitian pasar dapat digunakan untuk memproyeksikan hilangnya laba dimasa depan akibat kualitas yang buruk.
3.    Fungsi Kerugian Kualitas (Taguchi Quality Loss Function)
Taguchi mengasumsikan setiap pengimpangan dari nilai target suatu karakteristik kualitas dapat menimbulkan biaya kualitas yang tersembunyi.
L(y) = k(y – T)²
k = konstanta proporsionalitas yang besarnya bergantung pada struktur biaya kegagalan eksternal perusahaan
y =  nilai aktual dari karakteristik kualitas
T = nilai target dari karakteristik kualitas
L =  kerugian kualitas
Grafik Biaya Kualitas dari sudut pandang AQL


ANALISIS TREN
Untuk mengetahui biaya kualitas telah berkurang sesuai yang telah direncanakan atau tidak, penggunaan analisis tren multiperiode sangat diperlukan untuk menggambarkan perubahan keseluruhan biaya kualitas telah bergerak kearah yang tepat.
Data berikut adalah perubahan yang dialami perusahaan:

Biaya Kualitas  
Penjualan Aktual  
Biaya sebagai preseentase dari penjualan
2000
2001
2002
2003
2004
$440.000
423.000
412.500
392.000
280.000
$2.200.000
2.350.000
2.750.000
2.800.000
2.800.000
20%
18%
15%
14%
10%
Data Analisis Tren Multiperiode : data menurut kategori biaya kualitas
Data berikut adalah data biaya kualitas menurut kategori yang dialami perusahaan:                                        
Prevention      Appraisal      Internal Failure               External Failure
2000             2.0%       2.0%    6.0%                            10.0     %
2001             3.0          2.4       4.0                               8.6
2002             3.0          3.0       3.0                               6.0
2003             4.0          3.0       2,5       4.5
2004             4.1          2.4       2.0                       1.5             
PRODUKTIVITAS : PENGUKURAN DAN PENGENDALIAN
Produktivitas mengacu pada hubungan antara output dan input yang digunakan untuk memproduksi output. Peningkatan produktivitas secara teknis dapat dicapai dengan memproduksi output lebih banyak dengan menggunakan jumlah input yang sama.

Produktivitas saat ini :
Output sama, Input lebih sedikit :



Output lebih banyak, Input sama :
Output lebih banyak, Input lebih sedikit :

Partial Productivity Measurement (pengukuran produktivitas parsial): pengukuran produktivitas untuk satu input pada suatu waktu
Rasio Produktifitas = Output / Input
Operational Productivity Measure : pengukuran parsial jika dikaitkan/diukur dalam kuantitas fisik.
Financial Productivity Measure: pengukuran parsial jika dinyatakan/diukur dalam dolar (satuan uang)
KEUNGGULAN PRODUKTIVITAS PARSIAL
  Mudah diinterpretasikan semua pihak sehingga mudah digunakan untuk menilai kinerja produktivitas dari karyawan operasional.
  Misalnya tenaga kerja dihubungkan dengan unit yang diproduksi per jam atau unit yang diproduksi per kilogram bahan.
  Untuk menentukan standar kinerja operasional jangka pendek.
KELEMAHAN PRODUKTIVITAS PARSIAL
Ukuran parsial dapat menyesatkan, karena peningkatan produktivitas untuk satu input mungkin akan menyebabkan penurunan produktivitas untuk input yang lain.
Misal mengubah proses agar tenaga kerja langsung menggunakan lebih sedikit waktu untuk merakit sebuah produk, tetapi dapat meningkatkan sisa bahan baku dan limbah produksi, walaupun output totalnya tidak berubah.
Produktivitas tenaga kerja meningkat tetapi produktivitas penggunaan bahan baku menurun
Memungkinkan terjadi trade-off sehingga perlu pengukuran produktivitas secara total unuk menilai kelebihan berbagai keputusan produktivitas..
PENGUKURAN PRODUKTIVITAS TOTAL
Pengukuran produktivitas dari seluruh input (prakteknya tidak diperlukan), tetapi mengukur produktivitas dari faktor-faktor yang dianggap sebagai indikator keberhasilan perusahaan.
Ada 2 pendekatan yang memperoleh pengakuan untuk mengukur produktivitas total, yaitu: Pengukuran profil dan pengukuran produktivitas yang berkaitan dengan laba
PENGUKURAN PROFIL PRODUKTIVITAS
Menyediakan serangkaian ukuran operasional parsial yang berbeda dan terpisah.
Melibatkan input utama, seperti tenaga kerja, bahan, modal, dan energi.
Contoh :
Produktivitas dari kedua input bergerak kearah yang sama :
2007                 2008
Jumlah Mesin yang diproduksi           120,000           150,000
Jumlah tenaga kerja yang digunakan  40,000             37,500
Bahan yang digunakan                       1,200,000        1,428,571

Rasio Produktivitas Parsial
Profil 2007
Profil 2008
Rasio produktivitas tenaga kerja
3.000
Line Callout 2: 150.000 1.428.5714.000
Rasio produktivitas bahan
0,100
0,105
Line Callout 2: 150.000 37.500Line Callout 2: 120.000 1.200.000Line Callout 2: 120.000 40.000

PENGUKURAN PRODUKTIVITAS YANG BERKAITAN DENGAN LABA
  Menilai pengaruh perubahan produktivitas terhadap laba. Perubahan laba sebagian disebabkan adanya perubahan produktivitas.
  Penurunan produktivitas  secara terus menerus akan menurunkan laba, karena meningkatkan biaya-biaya dan mengurangi jumlah barang yang diproduksi.
  Peningkatan produktivitas secara tidak langsung akan meningkatkan laba melalui efisiensi / penghematan biaya yang ditanggung perusahaan.
KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS
Peningkatan kualitas dapat meningkatkan produktivitas, contoh pengerjaan ulang berkurang karena menurunnya unit produk yang cacat, maka lebih sedikit tenaga kerja dan bahan yang digunakan untuk menghasilkan output yang sama.
BAB XII
PELAPORAN SEGMEN, EVALUASI PUSAT INVESTASI, DAN PENETAPAN HARGA TRANSFER

Sistem Akuntansi Pertanggungjawaban (responsibility accounting system) adalah sistem yang mengukur berbagai hasil yang dicapai setiap pusat pertanggungjawaban menurut informasi yang dibutuhkan para manajer untuk mengoperasikan pusat pertanggungjawaban mereka.
Desentralisasi adalah praktik pendelegasian wewenang pengambilan keputusan kepada jenjang yg lebih rendah
Pengambilan keputusan terdesentralisasi memperkenankan manajer pada jenjang yang lebih rendah untuk membuat dan mengimplementasikan keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan wilayah pertanggungjawaban mereka.
Alasan melakukan desentralisasi
a.    Mengumpulkan dan menggunakan informasi lokal
  Manajemen puncak yang tidak memahami kondisi lokal akan mengakibatkan pengambilan keputusan yang tidak tepat,
  Sehingga pengambilan keputusan dilakukan oleh manajer tingkat rendah yang berhubungan langsung dengan operasional
b.    Memfokuskan manajemen pusat
  Manajemen puncak fokus menangani hal-hal yang bersifat strategis dan bersifat jangka panjang
  Manajemen tingkat rendah bertanggungjawab pada operassional sehari-hari
c.    Melatih dan memotivasi para manajer
  Kondisi operasional sehari-hari yang dinamis akan membuat manajer tingkat rendah menjadi terlatih untuk pengambilan keputusan  secara taktis
  Sehingga memotivasi manajer tingkat rendah dan merupakan peluang untuk promosi ke level yang lebih tinggi
d.   Meningkatkan daya saing
  Divisi yang tidak berdaya saing akan mati dengan sendirinya untuk menutupi ketidakefisienan
Pusat Pertanggungjawaban merupakan suatu segmen bisnis yang manajernya bertanggungjawab terhadap serangkaian kegiatan-kegiatan tertentu.
Digolongkan menjadi 4 : Pusat Biaya, Pusat Pendapatan, Pusat Laba dan Pusat Investasi
Pengukuran Kinerja Pusat Investasi berdasarkan perhitungan biaya variabel dan biaya penuh/absorpsi.
Membebankan semua biaya manufaktur ke produk, BOP tetap dipandang sebagai biaya produk, bukan biaya periode.
Hanya membebankan biaya manufaktur variabel ke produk, BOP tetap diperlakukan sebagai biaya periode karena akan tetap ada dalam berbagai kapasitas

Perhitungan Biaya Absorpsi
Perhitungan Biaya Variabel
Biaya Produk
Bahan baku langsung
Tenaga Kerja Langsung
Overhead Variabel
Overhead Tetap
Bahan baku langsung
Tenaga kerja langsung
Overhead Variabel
Biaya Periode
Beban penjualan
Beban Administrasi
Overhead tetap
Beban Penjualan
Penilaian Persediaan : Persediaan dinilai atas biaya produk atau produksi.
Perhatikan data berikut dari Fairchild Company untuk tahun lalu.

Unit persediaan awal :                                   
Unit diproduksi                       10.000
Unit terjual ($300 per unit)     8.000
Biaya variabel per unit :
Bahan baku langsung              $ 50
Tenaga kerja langsung $100
Overhead variable                   $ 50

Biaya Tetap :
Overhead tetap per unit yang diproduksi       $ 25
Penjualan dan administrasi tetap                    $100.000
Persediaan barang akhir Fairchild Company Menurut Perhitungan Biaya Absorpsi dan Variabel

Laporan Laba Rugi dengan Menggunakan Biaya Variabel dan Absorpsi
Hubungan antara produksi, Penjualan dan Laba
Jika
Maka
Produksi > Penjualan
Laba bersih Absorpsi > Laba Bersih Variabel
Produksi < Penjualan
Laba bersih Absorpsi < Laba Bersih Variabel
Produksi = Penjualan
Laba bersih Absorpsi > Laba Bersih Variabel
Ilustrasi :
Data operasional Belnip, Inc. Pada tahun 2006, 2007, dan 2008
Biaya Variabel perunit :
Bahan baku langsung                                      $4,00
Tenaga kerja langsung                         1,50
Overhead variabel (estimasi dan aktual)         0,50
Penjualan dan administrasi variabel                0,25

Estimasi :
Volume Produksi                    150.000
Overhead tetap                       $150.000


Aktual (setiap tahun) :
Volume Produksi                    150.000
Overhead tetap                       $ 150.000
Beban penj dan adm               $   50.000
Harga jual                                $ 10 per unit

Data operasional lainnya adalah sbb :

2006
2007
2008
Persd awal
-
-
50.000
Produksi
150.000
150.000
150.000
Penjualan
150.000
100.000
200.000
Persd. Akhir
-
50.000
-
Rekonsiliasi perhitungan biaya Variabel dan Absorpsi (dalam ribuan dolar)
Perlakuan Overhead Tetap pada Perhitungan Biaya Absorpsi
Overhead tetap harus dibebankan pada unit yang diproduksi. Ada 2 masalah :
  Bagaimana mengonversi overhead pabrik yang dibebankan berdasarkan jam tenaga kerja langsung/jam mesin thd overhead pabrik yang ditetapkan pd unit2 yang diproduksi?
  Apa yang dilakukan jika overhead pabrik yang aktul tidak sama dengan overhead yang dibebankan?
Solusi
  Hitung overhead tetap yang ditetapkan dan bebankan ke unit yang diproduksi
  Total overhead yang ditetapkan dibandingkan dengan overhead aktual
  Jika ada variansi tidak material, maka akan ditutup dalam harga pokok penjualan.
Laporan Laba Rugi Segmen dengan Perhitungan Biaya Variabel
Sebuah segmen adalah subunit dari suatu perusahaan bisa berupa : divisi, departemen, lini produk, kelompok pelanggan, dll. Dalam laporan laba rugi segmen, beban tetap dibagi menjadi dua kategori: beban tetap langsung  dan beban tetap umum
Laporan Laba Rugi Segmen dengan Perhitungan Biaya Variabel
  Beban tetap langsung (direct fixed expenses) adalah beban tetap yang secara langsung dapat ditelusuri ke suatu segmen.
  Beban ini terkadang disebut beban tetap yang dapat dihindari (avoidable fixed expenses) atau beban tetap yang dapat ditelusuri (traceable fixed expenses) karena beban ini akan hilang jika segmen ditutup atau dihapus. contoh : segmen wilayah penjualan
  Beban tetap langsung untuk setiap wilayah adalah : sewa kantor penjualan, gaji manajer penjualan di setiap wilayah, dst. Jika salah satu wilayah dihapus, maka beban tetap tersebut akan hilang.
Laporan Laba Rugi Segmen dengan Perhitungan Biaya Variabel
  Beban tetap Umum (common fixed expenses) disebabkan oleh dua atau lebih segmen secara bersamaan. Beban-beban ini tetap muncul, walaupun ada segmen yang dihapus. Contoh : depresiasi gedung kantor pusat, gaji CEO, dan biaya untuk mencetak dan mendistribusikan laporan tahunan kepada para pemegang saham.
Audiomatronics memproduksi alat pemutar MP3 dan pemutar DVD. Audiomatronics menyediakan informasi berikut ini untuk tahun depan :
Komisi penjualan = 5% dari penjualan
Beban penjualan & Adm tetap langsung diperkirakan : MP3 =$10.000, DVD =$20.000
Overhead tetap umum untuk pabrik diperkirakan sebesar $100.000
Beban penjualan & adm umum diperkirakan sebesar $20.000.
Pengukuran Kinerja Pusat Investasi dengan Menggunakan ROI
ROI merupakan rasio antara laba dengan jumlah investasi yang biasanya dinyatakan dalam prosentase, rumusnya :

Laba Operasi adalah laba sebelum bunga dan pajak (EBIT)
Aktiva operasi adalah aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba operasi termasuk kas, piutang, persediaan, tanah, gedung, dan peralatan.
Semakin tinggi ROI semakin bagus perusahaan tersebut.
Keunggulan ROI
  Manajer fokus pada hubungan antara penjualan, beban, dan investasi
  Fokus pada efisiensi biaya
  Fokus pada efisiensi aktiva operasi
  Metode pengukuran yang obyektif berdasarkan pada data akuntansi yang tersedia
  Memungkinkan pembandingan kinerja antar divisi
Kelemahan ROI
  ROI mengakibatkan perhatian pada profitabilitas divisional yang sempit atas beban profitabilitas keseluruan perusahaan
  ROI mendorong para manajer untuk memperhatikan kepentingan angka pendek atas beban jangka panjang.
ILUSTRASI ROI
PT. BUNGA KENCANA memiliki suatu divisi yang memproduksi peralatan rumah tangga dan mendapat kesempatan untuk melakukan investasi dalam dua proyek pada tahun depan. Biaya yang dibutuhkan untuk masing-masing investasi, tingkat pengembalian dan ROI adalah sebagai berikut :

Proyek I
Proyek II
Investasi
Rp. 10.000.000
Rp. 4.000.000
Laba operasi
1.300.000
640.000
ROI
13%
16%
Divisi saat ini menghasilkan ROI sebesar 15%, aktiva operasi Rp. 50juta dan laba operasi atas investasi berjalan Rp. 7,5juta. Divisi telah mendapat persetujuan tambahan investasi sebesar Rp. 15juta untuk investasi modal baru dengan syarat bahwa semua investasi harus menghasilkan laba bersih paling sedikit 10%.
Manajer divisional memiliki empat alternatif. Investasi dalam proyek I; investasi dalam proyek II; investasi dalam proyek I dan II; serta tidak melakukan investasi.
Perhitungan menurut ROI

Proyek I
Proyek II
Kedua Proyek
Tidak ada proyek
Laba operaasi
Rp. 8.800.000
Rp. 8.140.000
Rp. 9.440.000
Rp. 7.500.000
Aktiva operasi
60.000.000
54.000.000
64.000.000
50.000.000
ROI
14,67%
15,07%
14,75%
15,00%
Manajer divisional akan memilih proyek II karena investasi akan meningkatkan ROI dari 15% menjadi 15,7%
Mengukur Kinerja Pusat Investasi dengan menggunakan Laba Residu dan Nilai Tambah Ekonomi
EVAà laba bersish dikurangi total biaya modal tahunan.
Jika EVA Positif maka perusahaan sedang menciptakan kekayaan.
Jika EVA Negatif maka perusahaan sedang menyianyiakan modal
Menghitung EVA
EVA=Laba operasi stlh pajak – (%biaya modal aktual x total modal yang dipakai)
Perhitungan menurut RI

Proyek I
Proyek II
Kedua Proyek
Tidak ada proyek
Aktiva operasi
Rp. 60.000.000
Rp. 54.000.000
Rp. 64.000.000
Rp. 50.000.000
Laba Operasi
Rp. 8.800.000
Rp. 8.140.000
Rp. 9.440.000
Rp. 7.500.000
Pengembalian minimal
6.000.000
5.400.000
6.400.000
5.000.000
Laba residu
Rp. 2.800.000
Rp. 2.740.000
Rp. 3.040.000
Rp. 2.500.000
Pengembalian minimal = 10% x aktiva operasi
Dari hasil tabulasi diatas, memperlihatkan bahwa pemilihan kedua proyek akan menghasilkan laba residu yang paling tinggi
Penetapan Harga Transfer
  Bagaimana cara menilai barang-barang yang ditransfer?
  Nilai barang yang ditransfer merupakan pendapatan bagi divisi yang menjual dan biaya bagi divisi yang membeli. Nilai ini atau harga internal disebut harga transfer (transfer price)
ABC, Inc
1.    Divisi A
  Memproduksi komponen dan mentransfernya ke C dengan harga transfer $30 per unit
  Harga transfer =$30 per unit
  Pendapatan bagi A
  Meningkatkan laba bersih
  Meningkatkan ROI
2.    Divisi C
  Membeli komponen dari A dengan harga transfer $30 per unit dan menggunakan komponen itu untuk memproduksi produk akhir
  Harga transfer = $30 per unit
  Biaya bagi C
  Menurunkan laba bersih
  Menurunkan ROI
Pendapatan harga transfer = Biaya harga transfer Dampak Nol bagi ABC Inc
Kebijakan Penetapan Harga Transfer
  Harga transfer minimum
harga transfer yang akan membuat divisi penjual tidak menjadi lebih buruk jika barang dijual pada divisi internal daripada dijual pada pihak luar. Hal ini terkadang disebut “batas bawah (floor)”dari rentang penawaran
  Harga transfer maksimum
Harga transfer yang akan membuat keadaan divisi pembeli tidak menjadi lebih buruk-jika suatu input dibeli dari divisi internal daripada jika barang yang sama dibeli secara eksternal, hal ini terkadang disebut “batas aas (ceiling)” dari rentang penawaran.
Penetapan harga Transfer
  Harga Pasar
Harga yang ditetapkan sesuai dengan harga pasar. Produk yang di jual oleh divisi penjual  dibeli oleh divisi pembeli dengan harga yang sama jika dijual ke pihak eksternal perusahaan
  Harga transfer berdasarkan biaya
Penentuan harga ditetapkan berdasarkan biaya-biaya produksi yang ditanggung oleh divisi penjual. Tidak memungkinkan adanya laba
  Harga transfer yang dinegosiasikan
Divisi penjual dan divisi pembeli menegosiasikan harga produk untuk dijual secara internal
PERTEMUAN XIII
PENGAMBILAN KEPUTUSAN TAKTIS

Pengambilan Keputusan
adalah proses pemilihan alternatif solusi untuk suatu masalah. Dalam pengambilan keputusan, masalah adalah sesuatu kondisi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Berdasarkan pemecahannya, masalah terbagi atas:
1.    Masalah yang harus segera dipecahkan
misalnya dalam keadaan tanggap bencana, pemerintah daerah harus memutuskan apakah akan menganjurkan penduduk untuk mengungsi atau tidak.
2.    Masalah yang sulit dipecahkan
Biasanya, masalah yang sulit dipecahkan mengandung banyak trade-off atau konflik kepentingan. Misalnya, dalam sebuah tim pengembangan produk, jika akan memproduksi produk dengan kualitas tinggi maka biaya produksinya juga akan mahal, sedangkan konsumen menghendaki produk yang berkualitas tinggi dengan harga yang wajar.
3.    Masalah yang tidak dapat dipecahkan
Biasanya suatu masalah belum dapat dipecahkan karena kurangnya informasi yang melingkupinya. Namun dengan penggunaan metode analisis masalah yang tepat, pemecahannya akan menjadi lebih mudah.
Jenis Keputusan, berdasarkan level manajemen :
a.    Keputusan Strategis
adalah keputusan yang dibuat oleh manajemen puncak dalam sebuh perusahaan.
b.    Keputusan taktis
adalah keputusan yang dibuat oleh manajemen menengah
a.    Keputusan operasional
adalah keputusan yang dibuat oleh tingkat manajemen yang paling bawah, misalnya operator mesin di lantai produksi.
Jenis Keputusan, berdasarkan tersedianya pemecahan masalah:
a.    Keputusan Terprogram
Keputusan ini  berkaitan dengan kebiasaan, aturan, dan prosedur. Dalam hal ini kondisi yang dihadapi semuanya dapat diketahui dengan pasti.
b.    Keputusan tidak terprogram.
Keputusan tidak terprogram ini adalah keputusan yang tidak mempunyai suatu aturan yang baku, tergantung pada jenis masalahnya. Biasanya, masalah yang membutuhkan keputusan tidak terprogram ini terjadinya tidak dapat diprediksi.
c.    Keputusan tidak terstruktur
Disebut tidak terstruktur karena tidak diketahui pemecahannya karena ketidakjelasan masalahnya disebut tidak terstruktur karena tidak diketahui pemecahannya karena ketidakjelasan masalahnya
Pengambilan keputusan taktis
Terdiri atas pemilihan di antara berbagai alternatif dengan hasil yang langsung atau terbatas.
  Cenderung bersifat jangka pendek yang kerap mengandung konsekwensi jangka panjang.
  Keputusan taktis kerap berupa tindakan berskala kecilyang bermanfaat untuk tujuan jangka panjang.
Model Pengambilan Keputusan Taktis
  Kenali dan definisikan masalah.
  Identifikasi setiap alternatif sebagai solusi yang layak atau masalah tersebut; eliminasi alternatif yang secara nyata tidak layak.
  Identifikasi biaya dan manfaat yang berkaitan dengan setiap alternatif yang layak. Klasifikasikanlah biaya dan manfaat sebagai relevan atau tidak relevan serta eliminasilah biaya dan manfaat yang tidak relevan dari pertimbangan.
  Hitunglah total biaya dan manfaat yang relevan dari masing-masing alternatif.
  Nilailah faktor-faktor kualitatif., misalnya kualitas bahan baku dari pemasok, hubungan ketenagakerjaan, image masyarakat, dll.
  Pilihlah alternatif yang menawarkan manfaat terbesar secara keseluruhan.
BAB XIV
MANAJEMEN PERSEDIAAN

The Past Business Paradigm
The New Business Paradigm (Supply Chain)

Pengertian Persediaan (inventory) adalah suatu bagian dari kekayaan perusahaan manufaktur yang digunakan dalam rangkaian proses produksi untuk diolah menjadi barang setengah jadi dan akhirnya menjadi barang jadi.
Barang persediaan adalah sejumlah material yang disimpan dan dirawat menurut aturan tertentu dalam tempat persediaan agar selalu dalam keadaan siap pakai dan ditatausahakan dalam buku perusahaan
Jenis-jenis persediaan :
       Persediaan Bahan Baku
-  material yang dibeli, disimpan, dan digunakan sebagai input utama proses produksi.
       Persediaan Bagian Produk yg Dibeli
-  material yang dibeli, disimpan, dan digunakan sebagai input  tanpa melalui proses produksi sebelumnya (langsung dirakit dengan gabian lain)
       Persediaan Barang Pembantu
-  material yang dibeli, disimpan, dan digunakan sebagai inut tambahan proses produksi ;
Persediaan barang setengah jadi/barang dalam proses : persediaan barang yang keluar dari tiap-tiap bagian dalam satu pabrik yang telah melalui sebuah / beberapa proses, tetapi harus melalui proses berikutnya untuk kemudian menjadi barang jadi
Persediaan baranag jadi : persediaan barang yang telah selesai diproses/diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual pada pelanggan atau perusahaan lain.
Biaya Persediaan :
  Biaya pemesanan : contohnya biaya pemrosesan pesanan, biaya asuransi untuk pengiriman, dan biaya pembongkaran
  Biaya persiapan atau penyetelan : biaya-biaya untuk menyiapkan peralatan dan fasilitas, contohnya upah pekerja bagian produksi, biaya uji coba produksi
  Baiay penyimpanan : contohnya biaya asuransi, pajak persediaan.
  Biaya habisnya persediaan : biaya-biaya yg terjaddi karena tidak dapat menyediakan produk ketika diminta pelanggan, contohnya biaya ekspedisi ( meningkatnya beban transportasi, lembur, dll).
Manajemen pengendalian persediaan
1.    Jika persediaan terlalu tinggi maka
a)    Biaya penyimpanan tinggi
b)   Biaya bunga tinggi
  Jika Investasi dibiayai Modal Asing è biaya bunga
  Jika Investasi dibiayai Modal Sendiri è Opportunity cost
c)    Biaya pemeliharaan di gudang tinggi
d)   Kemungkinan kerugian karena kerusakan, turunnya kualitas, keausan.
e)    Memperkecil keuntungan perusahaan
2.    Jika persediaan terlalu kecil, maka proses produksi akan terganggu è akibatnya :
a)    Perusahaan tidak dapat bekerja dengan full capasity, artinya: capital assets dan direct labour tidak bekerja dengan sepenuhnya.
b)   Penjualan turun, akibatnya:
  Perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan konsumen
  Turunnya market share
  Turunnya laba
Faktor-faktor yg mempengaruhi investasi dalam persediaan
1.    Tingkat penjualan
Makin tinggi  omzet penjualan  makin besar investasi pada persediaan.
2.    Sifat teknis dan sifat produksi
    Produksi pesanan è persediaan beragam & banyak
    Produksi masal è persediaan bisa diatur
3.    Lamanya proses produksi
    Proses lama è BDP tinggi
4.    Daya tahan bahan baku dan produk akhir
    Barang tahan lama è persediaan relatif tinggi
    Barang tahan tidak lama è persediaan relatif rendah
    Barang musiman è persediaan tinggi pada musimnya
5.    Lama pembelian & pengiriman
Perkembangan teori manajemen persediaan
1)   Teori tradisional
Mengelola tingkat persediaan untuk memperoleh keunggulan kompetitif
Memaksimalkan laba mensyaratkan perlunya meminimalkan biaya yang berkaitan dengan persediaan
Memininalkan biaya penyimpanan = memesan dalam jumlah kecil = intensitas pemesanan akan semakin sering dan meningkatkan biaya pemesanan , sedangkan meminimalkan biaya pemesanan  = menyimpan & memproduksi barang dalam jumlah yang besar
Keseimbangan antara kedua hal ini membuat perusahaan menerapkan kebijakan yg efektif dalam hal menyimpan persediaan
2)   Teori EOQ (Economical Order Quantity)
Penentuan Jumlah Pembelian Yang Ekonomis (EOQ) :
Suatu jumlah pembelian untuk memenuhi kebutuhan bahan dalam satu periode yang mempunyai biaya persediaan paling rendah atau jumlah pembelian yang paling ekonomis untuk dilaksanakan setiap kali pembelian.
Asumsi dalam Perhitungan EOQ:
  Pola pemakaian bahan baku tetap.
  Terdapat persediaan yang cukup di pasar bebas
  Terdapat tingkat harga yang sama dalam satu periode.
  Terdapat tingkat biaya yang sama dalam satu periode.
Rumus
R  = Jumlah (dalam unit) yang dibutuhkan selama satu periode (satu tahun)
S   = Biaya pesanan setiap kali pesan.
P   = Harga pembelian per unit yang dibayar.
l    = Biaya penyimpanan dan pemeliharaan di gudang (biasanya dinyatakan dalam persentase dari nilai rata-rata dalam rupiah dari nilai persediaan)
contoh soal:
Biaya penyimpanan dan pemeliharaan di gudang adalah 40 % dari nilai persediaan di gudang. Biaya pesanan adalah Rp. 15 juta setiap kali pesanan. Jumlah material yang dibutuhkan selama setahun sebanyak 1200 unit dengan harga Rp. 1.000.000,- per unitya.
Ini berarti bahwa cara pembelian yang paling ekonomis ialah pembelian bahan sebanyak 300 unit sekali pesanan, jadi kebutuhan material sebanyak 1200 unit selama satu tahun akan dipenuhi dengan 4 kali pesanan @ 300 unit.
PERHITUNGAN ECONOMICAL ORDER QUANTITY
Frekuensi Pembelian
1 Kali
2 Kali
3 Kali
4 Kali
6 Kali
10 Kali
12 Kali
Berapa bulan sekali pesanan dilakukan
12
6
4
3
2
1,2
1
Jumlah unit setiap kali pesan
1200
600
400
300
200
120
100
Nilai persediaan
1200 jt
600 jt
400 jt
300 jt
200 jt
120 jt
100 jt
Nilai persediaan rata
600 jt
300 jt
200 jt
150 jt
100 jt
60 jt
50 jt
Biaya penyimpanan setahun (40 %)
240 jt
120 jt
80 jt
60 jt
40 jt
24 jt
20 jt
Biaya pesanan setahun
15 jt
30 jt
45 jt
60 jt
90 jt
150 jt
180 jt
Jumlah biaya semuanya
255 jt
150 jt
125 jt
120 jt
130 jt
174 jt
120 jt
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa biaya semuanya yang paling murah pada pesanan  sejumlah Rp. 120.000.000,- pada pesanan sebesar 300 unit setiap kali pesan.
EOQ dengan Safety Stock
Jika perusahaan menetapkan jumlah minimum persediaan yang harus ada digudang (Safety Stock) maka jumlah barang yang ada di gudang: = EOQ + Safety Stock
Setiap kali jumlah persediaan mencapai Safety Stock maka perusahaan harus segera membeli sebesar EOQ
Persediaan digudang tidak pernah mencapai nol
SAFETY STOCK :
Safety Stock/Iron Stock yaitu persediaan minimal yang harus ada untuk menjamin kelancaran proses produksi akibat adanya kemungkinan kekurangan persediaan (out of stock).
Adanya Safety stock/Iron Stock bahkan security stock sebagai sumber inefisiensi. Oleh karena itu sebisa mungkin persediaan minimal jumlahnya harus ditekan (seminimal mungkin)
Out of Stock bisa terjadi karena beberapa hal :
1.    Penggunaan bahan dasar di dalam proses produksi yang lebih besar dari pada yang diperkirakan sebelumnya.
2.    Pesanan/pembelian bahan dasar tidak dapat tepat datang pada waktunya (atau lead time tidak terpenuhi/tidak tepat)
EOQ dengan Safety Stock
Dari contoh perhitungan EOQ dimuka, hitunglah besarnya jumlah barang yang ada di gudang bila ditetapkan safety stock sebesar 25:
Dari contoh perhitungan EOQ di atas, hitunglah besarnya jumlah barang yg ada di gudang bila ditetapkan safety stock sebesar 25!
= EOQ + Safety Stock
= 300 +25 = 325 unit
Reorder Point (ROP)
  Reorder point adalah titik yang menunjukkan jumlah barang yang harus ada di gudang, sewaktu perusahaan harus mengadakan pemesanan lagi, sehingga penerimaan material yang dipesan itu tepat waktu dimana persediaan diatas safety stock sama dengan nol
  Safety stock adalah batas pengaman persediaan yang harus ada dalam gudang untuk menjaga kontinuitas produksi.
  Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penentuan besarnya Reorder point adalah :
Ø Penggunaan selama tenggang waktu mendapatkan barang (procurement lead time).
Ø Besarnya safety stock.
Rumus ROP
ü  Reorder point = safety stock + penggunaan selama lead time
ü  Reorder point = Prosestase tertentu dr. Safety
ü  Stock + Kebutuhan Lead Time
ü  Lead Time = Penggunaan bahan baku selama tenggang waktu mendapatkan barang.
3)   Teori MRP (Manufacturing Resources Planning)
MRP merupakan metode perencanaan dan penjadwalan pesanan dan inventory untuk memperoleh material yang tepat dari sumber yang tepat, untuk penempatan yang tepat, dan pada waktu yang tepat.
KOMPONEN MRP
  Jadwal Produksi Induk (Master Production Scheduling)
-     Perencanaan dalam skala total bersifat jangka panjang yang kemudian dalam pelaksanaan nya dibuat secara lebih terperinci untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek.
  Struktur Produk (Bill Of Material / BOM)
-  Daftar komponen, data lengkap mengenai bahan baku, dan urutan proses produksi  yang diperlukan untuk membuat atau merakit satu unit produk.
  Catatan Daftar Persediaan (Inventory Records File)
-  Catatan tentang persediaan komponen digudang yang sudah dipesan. Catatan ini harus salalu uptu date atas transaksi-transaksi yang terjadi seperti penerimaan, pengeluaran, produk gagal, produk rusak, produk kadaluarsa untuk menghindadi kesalahan dalam pemrosesan.
4)   Teori MRP II (Manufacturing Resources Planning)
  MRP berevolusi menjadi MRP II (Manufacturing Resources Planning, yang melingkupi faktor tambahan seperti perencanaan jangka panjang, master schedulling, rough cut capacity planning dan shoop floor control. MRP I telah memasukan unsur pengawasan dan pelaporan. Setelah MRP I perusahaan menyadari bahwa banyak hal yang harus dipadukan antara lain keuangan, peramalan, sales order, analisa penjualan, distribusi, quality control serta sistem pelaporan dan pengawasan lebih lanjut.
  MRP II - Berdasarkan MRP - Metode terkomputerisasi untuk perencanaan simultan terhadap semua sumber daya dalam sebuah perusahaan, meliputi financials, manufacturing dan manajemen distribusi.
5)   Teori ERP (Enterprises Resources Planning)
Sistem ERP secara modular biasanya menangani proses manufaktur, logistik, distribusi, persediaan (inventory), pengapalan, invoice dan akuntasi perusahaan. Ini berarti bahwa sistem ini nanti akan membantu mengontrol aktivitas bisnis seperti penjualan, pengiriman, produksi, manajemen persediaan, manajemen kualitas dan sumber daya manusia.
Keuntungan penggunaan ERP
Integrasi data keuangan
Untuk mengintegrasikan data keuangan sehingga top management bisa melihat dan mengontrol kinerja keuangan perusahaan dengan lebih baik
Standarisasi Proses Operasi
Menstandarkan proses operasi melalui implementasi best practice sehingga terjadi peningkatan produktivitas, penurunan inefisiensi dan peningkatan kualitas produk
Standarisasi Data dan Informasi
Menstandarkan data dan informasi melalui keseragaman pelaporan, terutama untuk perusahaan besar yang biasanya terdiri dari banyak business unit dengan jumlah dan jenis bisnis yg berbeda-beda
Keuntungan yg bisa diukur
Penurunan inventori, Penurunan tenaga kerja secara total, Peningkatan service level, Peningkatan kontrol keuangan, penurunan waktu yang di butuhkan untuk mendapatkan informasi
6)   JIT (Just In Time)
Persediaan diperoleh dan dimasukkan dalam produksi tepat pada saat dibutuhkan. Sehingga tidak ada persediaan mengendap digudang
Hal yang dibutuhkan:
  Sistem informasi persediaan dan produksi yang tepat
  Pembelian dengan efisiensi tinggi
  Pemasok yang dapat diandalkan
  Pengelolaan yang efisien
BAB XV
INTERNATIONAL ACCOUNTING/INTERNATIONAL TRADE

EKSPANSI GLOBAL
MERUBAH PERSPEKTIF
  1. Perbedaan implikasi penghasilan karena pertukaran mata uang
  2. Praktek kredit yang berjalan kurang baik
  3. Perbedaan lingkungan bisis => budaya, hukum, politik, dan ekonomi disetiap negara
PERAN AKUNTAN MANAJEMEN :
ü Menyediakan informasi yang relevan  kepada pihak manajemen mengenai proyeksi-proyeksi di negara tujuan ekspansi, dari segi peraturan akuntansi, dan manfaat-manfaat lain yang akan diperoleh perusahaan.
ü Mengerti peraturan kepabeanan dan memastikan terselenggaranya penyimpanan data yang memadai dan mekanisme pengendalian internal yang berjalan dengan baik.
INTERNATIONAL TRADE : Perusahaan yang menjalankan bisnis lebih dari satu negara dalam suatu volume di mana kesehatan dan pertumbuhannya bergantung pada lebih dari satu negara.
Peran MNC : mengimpor material dan / mengekspor produk jadi.
BENTUK-BENTUK INTERNATIONAL TRADE
1.    Export Import
Ekspor adalah melakukan penjualan produk perusahaan diluar negeri. Tidak harus memiliki fasilitas produksi di luar negeri, produk akhir bisa langsung dikirim ke peembeli.
Impor adalah tindakan memasukan barang atau komoditas dari negara lain ke dalam negeri, dalam bentuk produk akhir maupun bahan baku yang akan diproduksi di dalam negeri.
PAKTA PERDAGANGAN
Contoh :
  NAFTA (North American Free Trade Agreement)
  CAFTA (China-ASEAN Free Trade Area)
  Uni Eropa – Korea Selatan
  Inggris – negara-negara persemakmurannya
2.    Anak Perusahaan yang dimiliki sendiri
Strategi membeli perusahaan yang beroperasi diluar negeri dan menjadikannya anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh perusahaan induk.
Manfaat :
s Sudah memiliki outlet produk
s Fasilitas produksi
s Distribusi yang mapan
Contoh :
Ø Perusahaan Asuransi AIG membeli line divisi asuransi milik LippoBank
Ø Danone membeli Aqua Indonesia
Ø Perusahaan Singapore Technologies Telemedia membeli Indosat
3.    Joint Venture
Sebuah jenis kemitraan bisnis dimana investor menjadi bagian dari kepemilikan perusahaan.
Manfaat
s Perusahaan dapat saling menggabungkan kemampuan dan keahliannya.
s Sebagai manuver untuk menghadapi Undang-Undang yg berlaku di suatu negara.
Contoh :
Ø Indonesia – Amerika  dalam pengeboran minyak di blok Cepu.
Ø IBM dengan Toshiba dan Siemens
INTERNATIONAL TRADE RISK
  Resiko Transaksi
  Resiko Ekonomi
  Resiko Translasi / Akuntansi
Managing Transaction Risk
Fluktuasi nilai tukar mengakibatkan ketidakpastian dari operasional perusahaan dalam area internasional. 
Resiko transaksi mengacu pada kemungkinan bahwa transaksi tunai dimasa depan akan dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar.
Managing Economic Risk
Meskipun sebuah perusahaan tidak berpartisipasi secara langsung terhadap perdagangan dengan luar negeri, tetapi kondisi ekonomi dalam negeri akan berubah seiring dengan perubahan nilai tukar mata uang nya terhadap mata uang asing
Managing Translation Risk
Pencatatan ulang setiap transaksi oleh perusahaan induk dengan menggunakan mata uang yang berbeda akan mengakibatkan perbedaan keuntungan dari pencatatan yang dilakukan anak perusahaan di negara asal.
Hal ini menimbulkan perbedaan penilaian kinerja.
EVALUATING PERFORMANCE
  Faktor ekonomi
-  Organisasi dari sistem bank sentral
-  Stabilitas ekonomi
-  Eksistensi pasar modal, pembatasan valuta
  Faktor politik dan hukum
-  Keefektifan struktur perundang-undangan
-  Pengaruh kebijakan pertahanan
-  Dampak kebijakan luar negeri, tingkat kestabilan politik, tingkat keterlibatan pemerintah dalam bisnis
  Faktor pendidikan
-  Tingkat kemampuan baca tulis, cakupan jenjang pendidikan formal, sistem pelatihan
-  Jenjang pelatihan teknis, mutu program pengembangan manajemen
  Faktor sosiologis
-  Sikap sosial terhadap industri dan bisnis
-  Sikap budaya terhadap otoritas dan bawahan
-  Sikap budaya terhadap produktifitas dan keberhasilan
-  Keragaman budaya dan ras
ETIKA DALAM LINGKUNGAN INTERNASIONAL
v Budaya dan Ekspektasi budaya
v Undang-undang lingkungan suatu negara
v Korparasi modern dengan etika
v Perusahaan multinasional harus menetapkan apakah kebiasaan tertentu benar-benar suatu cara berbisnis yang berbeda atau apakah merupakan pelanggaran atas kode etik berbisnisnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar